Pages

Jumat, 07 Agustus 2015

Kursus Aneka Olahan Buah Merah Papua


Demi Raih Nilai Tambah, Tristar Institute Sukses Olah Buah Merah

Jadi Es Krim, Jelly Cup, Mayonaise, Mie, Muffin, Pudding, Siomay dan Roti Tawar

PRESDIR Tristar Group Ir Juwono Saroso didampingi Ir Nur Hidayat, Wakil Direktur CV Tristar Chemical (Tristar Group) pada pertengahan April 2015 lalu ditunjuk Pemprov Jatim untuk menjadi nara sumber sekaligus  berbagi ilmu seputar tekonologi pangan di hadapan ratusan pejabat di lingkungan Pemprov Papua dan pelaku usaha.


Kehadiran dua anggota tim dari Tristar Group ke Jayapura itu untuk memenuhi undangan Pemprov Papua yang disampaikan melalui Pemprov Jatim. Kunjungan kerja bos Tristar Group ke Papua ini merupakan kali kedua, setelah sebelumnya dirinya berangkat ke Papua --atas undangan Kadin Papua-- bersama sejumlah pengusaha asal Jatim di bawah koordinasi pihak Kadin Jatim akhir Oktober 2014 silam.

Tim dari Tristar Group ini intinya mendapat tantangan untuk ”menyulap” buah merah asal Papua menjadi aneka produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga petani Papua mendapatkan nilai tambah (added value) dari buah asli dari Papua tersebut.

Dari penampilan fisik buah merah yang punya nama latinnya Pandanus conoideus Lam. itu kulitnya berwarna merah dan berminyak, daging buahnya oranye, sedangkan bonggolnya putih. Di habitat aslinya Papua, oleh penduduk setempat buah merah dimanfaatkan menjadi bahan obat-obatan.

Tidak hanya itu, tim dari Tristar Group ini juga diminta presentasi dan demo di hadapan undangan yang hadir untuk menunjukkan bahwa ginseng dan rumput laut bisa diolah menjadi aneka produk kosmetik.

”Dalam kesempatan tersebut, kami membawa lulur, krim wajah dan hand body untuk spa (body scrup) dengan dari ginseng dan sea weed (rumput laut). Produk kosmetik itu kami kasih label Nouvelle sebagai merek dagang,” kata Ir Juwono Saroso didampingi Ir Nur Hidayat, Wakil Direktur CV Tristar Chemical (Tristar Group).


Sejauh ini, lanjut Juwono, buah merah banyak dimanfaatkan oleh penduduk menjadi bahan obat-obatan, namun di tangan Tristar Group buah merah ”disulap” menjadi aneka produk kosmetik karena di dalam buah merah itu punya kandungan antioksidan dan vitamin E tinggi, yang berfungsi untuk peremajaan kulit.

Peluang kedua dari pemanfaatan buah merah adalah dijadikan aneka makanan. ”Dan terbukti, dari buah merah yang kami bawa ke Surabaya –tiga buah merah yang sudah dikupas dan satu lagi buah merah dalam kondisi utuh (segar), bisa diolah menjadi es krim, jelly cup, mayonaise, mie, muffin (seperti cup cake), pudding, siomay dan roti tawar,” kata Pak U, sapaan akrab Presdir Tristar Group Ir Juwono Saroso di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Aneka produk makanan olahan dari buah merah itu sukses diujicoba di dapur uji Tristar Institute oleh tim Teknologi Pangan Tristar Grouo yang dipimpin Ir Fitri Ani dengan anggotanya Nursanti, chef Harris Suseno dan Ir Indah Fitriana, M Abdul Rozi, pada 23-26 April 2015.
”Ide brilian yang berkembang pasca uji coba tersebut, daging dan bonggol buah merah juga akan kami olah menjadi keripik, sehingga masyarakat Papua nantinya bisa mengembangkan olahan buah merah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya,” kata Nursanti dan Ir Indah Fitriana di laboratorium Teknologi Pangan Tristar Institute Jl Raya Jemursari 234 Surabaya, kemarin.

Setelah sukses mengolah buah merah menjadi aneka makanan selanjutnya pihak Tristar Group akan melaporkan hasil ini kepada pihak Pemprov Papua. ”Informasinya, delegasi dari Papua akan datang ke Surabaya akhir bulan ini, untuk praktik langsung pengolahan buah merah dengan tim dari Teknologi Pangan Tristar Intitute,” ujarnya.

Selain itu, pihak Tristar Group juga ditantang untuk mengolah buah pinang – yang banyak dihasilkan petani Papua-- menjadi kosmetik, pasta gigi (untuk penguat gigi) dan sabun kewanitaan.

Info terbaru. PT Sariayu Cosmetics pernah meneliti buah pinang menjadi bahan kosmetik. ”Nah, dengan dasar kajian itu, kami optimistis bisa menyulap buah pinang menjadi kosmetik, pasta gigi dan sabun kewanitaan,” jelas Juwono Saroso, dalam kesempatan terpisah. (ahn)

Jumat, 29 Mei 2015

Pelatihan Wira Usaha Jamu Gendong di Tristar Institute



Erni Yuniati Rintis Usaha Jamu Tradisional

Kursus Private di TCI

UPAYA melestarikan minuman jamu tradisional yang menyehatkan dan menyegarkan badan, mendorong Erni Yuniati (35) untuk merintis usaha jamu skala rumah tangga (home industry) sejak dua tahun terakhir di Purwosari Kabupaten Pasuruan. Usaha rumahan jamu dengan merk Si Mbok  yang dirintis Erni Yuniati sampai saat ini baru mempekerjakan dua orang.


Tantangan yang sampai saat ini belum terpecahkan adalah bagaimana membuat jamu tradisional Jawa seperti beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak, yang diproduksinya itu bisa tahan lama. Selama ini, produksi jamu tradisional dalam kemasan tanpa bahan pengawet yang diproduksinya hanya sanggup bertahan 10 hari saja.
Padahal beberapa waktu lalu dirinya menerima tantangan dari sejumlah klien untuk memasok toko swalayan bagaimana jamu yang diproduksinya itu bisa tahan lebih lama saat di-display di outlet-outlet toko swalayan di Jatim, Bali hingga Kalimantan.

”Untuk mencari solusi atas kendala tersebut kami searching di internet, ternyata kami mendapat info jika Tristar Culinary Institute (TCI) sanggup membantu mengatasi sekaligus memberikan tips bagaimana mengatasi terbatasnya daya tahan jamu tradisional dalam kemasan,” terang Erni, sapaan akrab Erni Yuniati kepada matoasbynews.blogspot.com, kemarin.


Makanya tidak salah jika kemudian dirinya memutuskan mengambil kursus private jamu tradisional dengan biaya Rp 1,5 jutaan. Materi pelatihannya sendiri meliputi tata cara membuat jamu beras kencur, kunci suruh, sinom dan temulawak baik dan benar sesuai ketentuan Good Manufacturing Practices (GMP). Pelatihan teknologi pangan itu dihelat di laboratorium TCI Jl Raya Jemursari 234 Surabaya, Rabu (14/4).

Selama pelatihan tersebut, Erni Yuniati dibimbing langsung oleh instruktur senior TCI, Sari Kusumahati Ssi, Apt dibantu asisten Ir Indah Fitriana. Pelatihan yang lebih mengedepankan sharing ilmu itu berjalan lancar sejak persiapan bahan baku dan peralatan, proses produksi hingga teknik pengemasannya dalam botol serta tips mengolah usaha jamu tradisional dalam skala rumah tangga.

Biasanya, menurut Sari Kusumahati, dalam merintis usaha rumahan (home industry) makanan dan minuman, kendalanya antara lain adalah lemahnya pengetahuan bahan, minimnya pengetahuan soal sterilisasi karena kondisi dapur yang terkontaminasi jamur dan bakteri, teknik pengemasan yang masih apa adanya, kualitas produk yang belum bisa diandalkan hingga penanganan yang kurang hati-hati selama pendistribusian barang.

Untuk persiapan bahan baku yakni tanaman kencur, daun sinom, temulawak, kunci, daun suruh (sirih), buah asam, jahe, produsen minuman jamu tradisional wajib tahu dari pemasok seputar kapan panen, musim hujan atau kemarau (karena ini terkait dengan kandungan kimiawi bahan baku tersebut) hingga bagaimana cara penyimpanan bahan baku tersebut agar kualitasnya tetap terjaga dengan baik.

”Idealnya, untuk menjaga kualitas bahan baku terjaga dengan baik, bahan baku jamu untuk stok itu disimpan dalam freezer. Ini punya peranan tidak kecil dan tidak bisa diabaikan begitu saja karena ini akan mempengaruhi kualitas jamu yang diproduksi,” ujar Sari Kusumahati, memberi tips.


Selain itu, lanjut Sari, untuk mengatasi hambatan ketahanan jamu kemasan saat disimpan sebelum dikonsumsi, pengetahuan terhadap bahan pendukung dan bahan penolong seperti penggunaan bahan pengawet minuman Na­-Benzoat (setiap 1 liter olahan jamu ditambah 0,05 gram Na-Benzoat). Penambahan Na-Benzoat sampai dosis tertentu ke dalam bahan jamu akan menambah daya tahan jamu kemasan sampai setahun.

”Begitu juga penggunaan pemanis buatan Siklamat (1 gram Siklamat = 100 gram gula pasir) atau Aspartam (1 gram Aspartam = 200 gram gula pasir) dengan alasan menghemat biaya pengadaan gula pasir untuk pemanis jamu. Penggunaan bahan pengawet minuman dan pemanis buatan jadi bahan pertimbangan karena hal ini juga terkait dengan aspek perlindungan konsumen,” jelasnya.

Tips lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana melakukan tindakan sterilisasi botol kemasan sebelum diisi jamu. Untuk melakukan teknik sterilisasi yang hemat, Anda cukup  menggunakan alkohol 70 persen 600 ml untuk menyeterilkan 1.000 botol ukuran 600 ml dan tutup dengan teknik sederhana, mulai celup, isi (tuang), kocok, bilas dan keringkan di tempat bersih dengan posisi terbalik.



”Sterilisasi ini tujuannya untuk membunuh kuman-kuman penyakit baik jamur dan bakteri yang bisa menyerang makanan dan minuman olahan, akibat penanganan yang kurang baik selama proses produksi sehingga makanan dan minuman itu terkontaminasi,” katanya mengingatkan. (ahn)

Jumat, 09 Januari 2015

Pelatihan Memasak untuk Warga Tunanetra Surabaya


Dinsos Kota Surabaya Gandeng Tristar Culinary Institute (TCI)

25 Penyandang Cacat Diajarkan Buat Sirup, Silky Pudding, Es Krim, Batagor dan Siomay

TRISTAR Culinary Institute (TCI), salah satu unit usaha  di bawah jaringan bisnis  Matoa Holding, kembali mendapatkan kepercayaan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, menangani pelatihan kuliner membuat sirup, silky pudding, es krim, batagor dan siomay kepada 20 orang penyandang cacat (disabilitas netra).

Pelatihan kuliner yang dihelat selama empat hari, 27 November 2014 dan 1-3 Desember 2014 di Laboratorium Pastry Kampus Akpar Majapahit Jl. Prapen Indah J-5 itu bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan tata boga bagi penyandang disabilitas netra di Kota Pahlawan. Pelatihan kuliner ini merupakan bagian dari program kesejahteraan bagi PMKS Kota Surabaya Tahun 2014.

Pelatihan tata boga bagi penyandang cacat ini sejatinya untuk membekali mereka dengan pelatihan praktik masak memasak untuk bekal membuka usaha sendiri secara mandiri. Untuk maksud tersebut, Dinsos Kota Surabaya mempercayakan kepada pihak Tristar Culinary Institute (TCI) meng-handle pelatihan kuliner yang diikuti 25 orang penyandang cacat dari Surabaya dan sekitarnya.


”Kerjasama pelatihan kuliner dan nonfood antara kami dengan Dinsos Kota Surabaya d ini telah kami rintis sejak 1998 silam. Beberapa program pelatihan yang sudah berjalan antara lain pelatihan sablon untuk anak jalanan (anjal), pelatihan buat jamu gendong untuk lansia,” ungkap Ir. Juwono Saroso, Direktur TCI kepada pers di sela kegiatan pelatihan di Kampus J-5, Senin (1/12) siang.

Selain itu, pihak TCI sebelumnya juga dipercaya menangani pelatihan bikin kue kering dan kue basah untuk keluarga miskin (gakin) dan mantan PSK  Dolly, pelatihan bikin nugget bagi eks PSK Dolly dan pelatihan membuat siomay dan batagor bagi warga daerah kumuh di Surabaya.

Diakui Juwono, untuk melatih penyandang cacat memang sedikit ribet, sehingga pihak TCI mengerahkan personel lebih banyak dari biasanya untuk mendampingi peserta pelatihan. Ada enam meja lengkap dengan bahan dan peralatan masak memasak yang disiapkan panitia.


Setiap meja diisi empat orang peserta. Mereka dibantu dua orang pendamping dan satu instruktur. Dengan demikian, pihak TCI menyediakan enam orang instruktur dan 12 orang pendamping setiap hari selama empat hari gelaran pelatihan kuliner bagi penyandang cacat di Kampus J-5.

Di mata Fitri Anita, menangani pelatihan tata boga bagi disabilitas netra ini memang sedikit ribet dari biasanya. Dirinya bersama kru TCI yang terlibat selama pelatihan, mau tidak mau suka tak suka, harus bekerja ekstra agar semuanya berjalan lancar seperti yang direncanakan.

”Syukurlah ketika saya presentasi materi pelatihan di ruang kelas, mereka antusias mendengar penjelasan pihak TCI. Begitu juga saat mereka praktik masak memasak di dampingi instruktur masing-masing, peserta pelatihan tampak bersemangat dan senang,” tutur Fitri, penanggung jawab pelatihan bagi penyandang cacat dari TCI.


Sementara itu, Andinanto dari Dinsos Kota Surabaya mengatakan, pelatihan tata boga bagi penyandang disabilitas netra di kampus J-5 ini menunjukkan kepedulian pemkot terhadap para penyandang cacat. Sebagai warga kota Surabaya, mereka masuk program pemberdayaan ekonomi masyarakat agar kelak setelah mengikuti pelatihan ini mereka bisa membuka usaha sendiri secara mandiri.

Pelatihan kuliner bagi penyandang cacat di pengujung tahun 2014 ini menjadi pilihan Dinsos Kota Surabaya karena pihaknya ingin meningkatkan kemampuan penyandang cacat (disabilitas netra) dalam hal masak memasak. Mereka yang ikut pelatihan ini berasal dari  panti jompo, yayasan sosial dan masyarakat umum di Surabaya dan sekitarnya.

”Materi pelatihan tata boga yang diajarkan instruktur dari Tristar Culinary Institute  meliputi cara membuat sirup, membikin silky pudding, es krim serta membuat siomay dan batagor,” pungkasnya. (ahn)

Kamis, 03 Juli 2014

Kursus Kuliner di Tristar Culinary Institute



Kolaborasi Kopwan Setia Bhakti Wanita Jatim dan Tristar Culinary Institute

234 Anggota Koperasi Belajar Kuliner

KEPERCAYAAN publik terhadap eksistensi Tristar Culinary Institute (TCI), sebagai lembaga pelatihan kuliner swasta di Surabaya yang berpengaruh semakin mengkristal. Kali ini giliran Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jatim Jl Jemur Andayani 55 Surabaya yang menjalin kerjasama dengan pihak TCI menggelar pelatihan kuliner untuk para anggotanya.


Kerja sama antara dua lembaga itu tertuang dalam Surat Perjanjian No. 361/OR/SK/KSBW/V/2014 tertanggal 16 Mei 2014 yang ditandatangani Ir Indri Soerjani, Ketua I Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jatim dan Nofembrianti dari pihak TCI Surabaya.


Bendahara II Kopwan Setia Bhakti Wanita Jatim Kusumo Wardhani, mengatakan, pelatihan kuliner menu katering ini merupakan program kerja koperasi untuk tahun 2014. Selain itu masih ada jenis pelatihan lain yang masuk program kerja tahun ini yakni teknologi informasi (TI) komputer, kerajinan (handicraft), dan menjahit (pecah model dan busana).

”Ketika itu kami tawarkan kepada anggota untuk mengikuti pelatihan kuliner menu katering ternyata dari 11 ribu-an anggota koperasi hanya menjaring 234 orang peserta. Sedangkan anggota lainnya memilih belajar komputer, busana atau kerajinan.Makanya 234 orang ini yang kami gilir belajar kuliner di TCI mulai 19 – 31 Mei 2014,” ujar Bu Dhani, sapaan karib Kusumo Wardhani ketika dihubungi melalui telepon di kantornya, Selasa (20/5).


Pelatihan kuliner kepada anggota Kopwan Setia Bhakti Wanita Jatim ini selain untuk menambah keterampilan anggota dalam hal kuliner, juga diharapkan kelak setelah mereka belajar praktik menu katering secara langsung, ada keinginan untuk membuka usaha katering sendiri sekalipun dalam skala rumahan.


”Nah, dengan bekal keterampilan masak memasak inilah, kami berharap para anggota koperasi bisa mengkreasikan pengalamannya ini dengan membuka usaha mandiri demi menambah penghasilan keluarga. Kami akan support mereka sampai sukses,” terang Kusumo Wardhani.

Nofembrianti dari TCI Surabaya menambahkan, kerjasama antara TCI dengan Kopwan Setia Bhakti Wanita Jatim ini merupakan bukti nyata bahwa keberadaan TCI tetap diperhitungkan dalam menghelat pelatihan kuliner maupun pelatihan nonfood.

Dalam surat perjanjian, sebetulnya yang dijadwalkan ikut pelatihan kuliner adalah 234 orang, tetapi untuk tahap awal anggota koperasi yang menyatakan kesiapannya baru 175-an. Makanya yang dilatih untuk sementara baru 175 orang. Pelatihannya sendiri dimulai sejak Senin (19/5) lalu dari pukul 09.00-14.0009.00-14.00 dengan durasi lima jam perhari.

Setiap hari pelatihan kuliner menu katering ini diikuti 25-30 peserta, yang terbagi dalam lima kelompok @ enam orang. Mereka diajarkan menu pembuka (aneka salad), menu inti (aneka olahan daging dan sayur) dan menu penutup (terdiri atas pudding dan aneka es).

Pihak TCI menunjuk dua orang sebagai instruktur andalnya, yakni chef Yudha Agustian dan chef Mahmudi, untuk mendampingi peserta pelatihan menu katering dari Kopwan Setia Bhakti Wanita Jatim.

”Selain itu, setiap peserta pelatihan berhak mendapatkan tas cantikdari TCI yang berisi celemek, materi pelatihan, ballpoint, snack (makanan ringan)dan air minum dalam kemasan. Setelah mengikuti pelatihan ini, setiap peserta akan kami berikan sertifikat,” pungkasnya. (ahn)

Pelatihan Wirausaha - Buah Manggis


Kerjasama Pemkab Wonosobo denganTristar Culinary Institute (TCI) Surabaya

30 Petani Manggis Belajar Buat Cuka, Selai, Sari Buah, Dodol dan Wine dari Buah Manggis

HARGA sebuah kepercayaan memang mahal. Ini dibuktikan Tristar Culinary Institute (TCI) Surabaya yang dipercaya Pemkab Wonosobo Jateng memberi pelatihan kepada 30 petani manggis berupa penanganan teknologi pasca panen,  menyusul semakin meningkatnya hasil panen buah manggis dari daerah tersebut.


Nah, terobosan melatih petani manggis bersama TCI Surabaya ini merupakan solusi cerdas yang diusung Pemkab Wonosobo untuk mengatasi melimpahnya hasil panen buah manggis dari sentra-sentra kebun manggis milik anggota kelompok tani manggis daerah Wonosobo dan sekitarnya. 

Merasa tersanjung karena mendapatkan kepercayaan dari Pemkab Wonosobo, maka pihak TCI pun mengirim tim lengkap yang tediri dari chef Lydia Nursanti, chef Gansar Aji Santoso, asisten chef WahyudanSuwono (kameramen) keWonosobo.

Pelatihan olahan manggis untuk membuat cuka, sari buah (minuman dalam kemasan), selai, dodol manggis, wine, bubuk granusasi (untuk buat permen dan minuman) bersama petani manggis itu dihelat pada 11-13 Mei 2014. 
Pelatihan penanganan pasca panen buah manggis itu merupakan kerja bareng antara Pemkab Wonosobo dengan melibatkan PT Sido Muncul, Mitra Herbal Indonesia (MHI) dan TCI Surabaya.

Pelatihan hari pertama, peserta pelatihan diajak praktik langsung membuat dodol manggis, selai, bubukgranulasi (untuk permen dan minuman).Bubuk granulasi dibuat dari sari buah manggis dicampur gula pasir, Bahan ini kemudian disangrai sampai menjadi granul. Granul ini dibikin bubuk (untuk minuman) atau granulasi untukmembuat permen.

Sedangkan pelatihan hari kedua, peserta diajarkan cara membuat berbagai olahan buah manggis untuk dijadikan cuka, wine, selai dan sari buah (minuman dalam kemasan). Sementara itu, kulit buah manggisnya sendiri diolah lebih lanjut oleh MHI untuk bahan baku membuat obat herbal.

Christian Gunawan dari MHI mengatakan, latar belakang dihelatnya pelatihan membuat aneka olahan dari buah manggis karena hasil panen manggis di daerah Wonosobo dari tahun ketahun trennya terus meningkat. Nah, pada saat panen raya, banyak buah manggis yang tidak terserap pasar sehingga harga buah di tingkat petani anjlok.

Untuk mengurangi kerugian di tingkat petani, maka Pemkab Wonosobo bersama MHI dan PT Sido Muncul tergerak untuk memberi pelatihan kepada anggota kelompok tani manggis berupa tata cara mengolah buah manggis, sehingga punya nilai tambah secara ekonomi bagi petani manggis dan keluarganya.

Sementara itu, kulit buah manggis, yang selama ini dianggap limbah, dimanfaatkan oleh pihak MHI untuk bahan baku pembuatan obat herbal. Dengan demikian petani manggis di daerah Wonosobo tidak perlu galau setiap memasuki panen raya, karena buah manggis hasil panen petani tetap terserap pasar.

Pasalnya, buah manggis yang tersedia melimpah pada saat panen raya bisa dijadikan aneka makanan olahan yang punya nilai ekonomi tinggi. Selain itu, kulit manggis yang selama ini menjadi sampah (limbah) juga ”laku” karena diserap oleh pihak MHI untuk bahan baku pembuatan obat herbal yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

Selainitu, sebagaia presiasi kepada petani manggis yang mengikuti pelatihan tersebut maka Pemkab Wonosobo melalui pihak MHI memberikan 30 bibit tanaman cabe obat, 30 bibit tanaman kapulaga, 30 bibit tanaman kayu ulet, 30 bibit tanaman obat lainnya berikut contoh produk jadi dari hasil pengolahan tanaman obat.

Chef Lydia Nursantidari TCI Surabaya menambahkan, pelatihan aneka olahan buah manggis yang diikuti 30 petani manggis ini berjalan lancar berkat atensi yang luar biasa dari Pemkab Wonosobo, PT Sido Muncul dan pihak MHI. 

”Kedepan, pelatihan semacam ini akan terus digalakkan oleh pemda setempat mengingat besarnya manfaat yang diperoleh petani dan keluarganya. Terobosan ini tentu memberi angin segar bagi petani untuk tetap fokus menjalankan usaha taninya,”terangSanti, sapaan karib Lydia Nursanti di ruang kerjanya, kemarin. (ahn)

Senin, 01 April 2013

Pelatihan Produksi Makanan Vegan & Vegetarian @ Majapahit Tourism Academy

Sukses Rekayasa Teknologi Pangan
Suasana kegiatan Pelatihan
          AKPAR Majapahit selain mendidik mahasiswa terampil di bidang yang digeluti di bangku kuliah, juga memberi apresiasi tinggi kepada dosen yang getol melakukan penelitian terutama dalam bidang rekayasa teknologi pangan.
          Target penelitian dosen itu terutama meneliti bahan-bahan yang unik, menarik dan laku dijual. Beberapa rekayasa teknologi pangan yang sukses diteliti oleh R Bagus Handoko Y S.Pd adalah bakso dari jamur, dendeng daging dari jamur, dendeng daging dari jantung pisang, burger tempe, sirloin steak tempe, jus tempe, es krim tempe, susu tempe, abon jamur tiram dan abon klewih. Selain itu, dosen lulusan IKIP Negeri Semarang tahun 1994 silam itu juga sukses mengembangkan, empek-empek dari rumput laut (biasanya terbuat dari daging ikan tengiri dengan saos cuko), kekyan dari rumput laut, pangsit dan siomay dari jamur dan rumput laut, dan lain-lain.
R Bagus Handoko Y S.Pd
          Pengalaman chef Bagus yang juga pernah menjadi chef vegetarian versi oriental (vegan) di beberapa restoran di Jakarta dan Bogor selama 20 tahun ini memungkinkan dirinya melakukan rekayasa teknologi pangan. Nah, karena kepiawaiannya itu dia pun diajak bergabung bersama Akpar Majapahit sejak 2002 silam. Saat itu ia baru berkarir sebagai dosen tidak tetap di Tristar Institute, sebelum namanya berubah menjadi Akpar Majapahit.
          Beberapa produk vegan hasil rekayasa teknologi pangan ini “dipasarkan” Akpar Majapahit melalui kegiatan kursus atau pelatihan teknologi pangan kepada masyarakat. Produk gluten yang terbuat dari bahan baku tepung terigu yang dibuang patinya dan hanya diambil proteinnya.
          Gluten ini diaplikasikan menjadi rendang daging sapi, sate padang, sambel goreng cecek, ayam goreng crispy dan daging rawon. Gluten ini cocok dikonsumsi oleh penderita  hipertensi karena bebas kolesterol (lemak hewani).
          Ketika produk ini ditawarkan lewat program pelatihan, respons masyarakat cukup tinggi. Bahkan ada peserta dari luar pulau (Banjarmasin) yang memesan dendeng jamur sebanyak 25 kg. Dendeng jamur itu dijual lagi kepada pelanggannya di Banjarmasin (Kalimantan Selatan).
          Vegetarian sebetulnya ada tiga. Pertama, Vegan yang asalnya dari China dan sukses dikembangkan di negeri Tirai Bambu hingga Indonesia, vegetarian Lacto Ovo (masih mengkonsumsi susu dan telur) berasal dari Eropa,  sedangkan vegetarian lacto (masih mengkonsumsi susu) adalah vegetarian yang berkembang pesat di India.
          Di Akpar Majapahit sendiri cenderung mengembangkan produk vegan yang dikhususkan untuk menyuplai kebutuhan makanan orang-orang vegan, vegetarian dan umum. Dengan target pasar masyarakat umum, maka rekayasa teknologi pangan untuk orang-orang vegan dan vegetarian bisa lebih murah harganya karena HPP produk bisa ditekan serendah mungkin tanpa mengurangi kadar gizinya.
          Chef Bagus memberi contoh pembuatan bakso yang bahan baku utamanya 100 persen daging sapi, kini bisa disiasati dengan komposisi 50 persen daging sapi dan sisanya dari gluten. Dari campuran bahan itu, rasanya 100 persen seperti bakso daging sapi, tetapi dari segi biayanya bisa dihemat sampai 30 persen.
          Tidak hanya itu, pihaknya juga mengembangkan tekstur daging babi (sintetis) atau sam cam dengan bahan utama dari soya protein, maizena (tepung jagung), santan dan bumbu. Selain harganya jauh lebih murah, tekstur daging babi ini benar-benar bebas dari daging babi.
Es krim vegetarian
Es krim Vegetarian
          Keberhasilan lain yang patut dicatat adalah membuat bolognaise, saos daging Bologna Italia untuk topping spaghetti. Di dunia vegan, bolognaise ini bisa diambilkan dari belondo (limbah minyak kelapa) yang direkayasan sedemikian rupa sehingga tekstur dan citarasanya nyaris sama dengan bolognaise daging sapi. ”Untuk aplikasi ekonomi, bolognaise vegan tinggal menambah daging sudah menjadi balognaise yang siap dituangkan sebagai topping spaghetti vegan,” ujarnya.
          Pembuatan bolognaise vegan ini memanfaatkan limbah minyak kelapa (belondo) yang diolah (dimodifikasi) oleh chef Bagus Handoko menjadi saos bolognaise vegan yang lezat dan gurih. Saos ini cocok dipakai untuk membuat spaghetti vegan.
Suasana kegiatan Pelatihan
          ”Berbagai solusi cerdas ini yang kami tawarkan kepada masyarakat terutama pelaku usaha kecil hingga papan atas mulai pedagang bakso/bakwan keliling hingga kelas gedongan,” tandasnya. Nah, jika Anda tertarik mengikuti pelatihan membuat aneka makanan vegan, silakan mendaftarkan diri ke Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, sekarang juga. (*/ahn)


Jus Tempe


Pempek Vegetarian